RSS Feed

Minggu, 28 Februari 2010

Aku Belanja Maka Aku Ada

Oleh : hanuraini adnan

TAHUN 1990-an, Jalan Margonda di Kota Depok, Jawa Barat, masih dianggap sebagai tempat jin membuang anak, untuk menggambarkan sebuah pinggiran yang masih sunyi dan lengang. Sekarang, Jalan Margonda sudah sejak pukul 06.00. Pukul 23.00, hilir-mudik kendaran masih ramai. Tiap Sabtu malam, di pinggir-pinggir jalan telah berbaris puluhan sepeda motor yang berhimpun dalam satuan club sesuai dengan merek motor. Mereka siap berkompoy, meriuhkan jalanan dengan bunyi klakson.

Tahun lalu, berdiri dua pusat perbelanjaan baru di Jalan Margonda, yaitu Depok Town Square (Detos) dan Giant yang lokasinya berhadap-hadapan. Kios-kios dan counter perbelanjaan belum semuanya terisi. Di Detos, beberapa lantai masih kosong. Tetapi waktu mulai dibuka, setiap Sabtu malam pusat perbelanjaan itu baru akan tutup setelah pukul 00.00, pembelanja pun masih membeludak.

Kondisi di atas menjadi rekaman betapa pesat pembangunan di Kota Depok. Lesatnya pertumbuhan ini terjadi di seluruh kota besar di Tanah Air. Di Jakarta yang sudah sesak, gedung-gedung baru dalam ukuran besar, terus bermunculan bagai berlomba mencakari langit.

Teori ekonomi supply and demand menjelaskan, meningkatnya jumlah pusat perbelanjaan, menunjukkan meningkatnya para pembelanja. Di berbagai kota, orang-orang memang jadi keranjingan berbelanja. Tengoklah supermarket atau pusat-pusat perbelanjaan yang serba swalayan, selalu dipadati pengunjung. Gambaran ini menjadi sinyalemen kuat bahwa masyarakat kita dari hari ke hari semakin konsumtif.

Cua Beng-Huat, pengajar pada Departement National University of Singapore, menyaksikan pemandangan serupa di negerinya sekitar tahun 1990-an. Betapa masyarakat Singapura yang rata-rata menjadi orang kaya baru, telah menjadi gila dalam berbelanja. Mereka memadati berbagai pusat perbelanjaan. Beng-Huat menyebutnya, itulah budaya konsumerisme dan hedonisme baru yang sulit ditoak seiring dengan lesatnya pertumbuhan ekonomi.

Tetapi kegilaan orang Singapura itu terjadi setelah mereka berhasil menyelesaikan persoalan-persoalan mendasar seperti urusan perut, kesehatan, dan pendidikan. Kelebihan uang barulah digunakan untuk mengoleksi benda-benda, menegaskan kepemilikan, sekaligus mewujudkan impian. Psikolog Abram Maslow menyatakan, semua manusia berpotensi mengarah pada kegilaan untuk menegaskan eksistensi dirinya.

Namun masyarakat Indonesia lebih gila lagi. Sebab, menjadi konsumtif dan hedonitis di tengah kemiskinan. Pendidikan dan kesehatan menjadi nomor kesekian, yang penting aku berbelanja maka aku ada.

Ibu




Oleh : diaan rahmawati

Selaput malam mengiringnya terjaga, memahat setiap nyawa hati
membingkainya dalam untaian doa.
Kadang, nafas membuncah,
menghardik ribuan tanya..... meragu.
Lelah seakan mengepul seketika, mengganti segala resah jadi suka.
Kadang bisu tak terengkuh.
Meratap nyata tanpa nadir.
Andai terlahir kembali, biarkan ku jadi nyawa hidupmu....
wahai Ibu